INDONESIA MEMBUTUHKAN PERHATIAN LEBIH TERHADAP RASISME

 

Menurut wikipedia.org Rasisme adalah suatu sistem kepercayaan atau doktrin yang menyatakan bahwa perbedaan biologis yang melekat pada ras manusia menentukan pencapaian budaya atau individu – bahwa suatu ras tertentu lebih superior dan memiliki hak untuk mengatur ras yang lainnya.

Pada Bulan Juli lalu, isu rasisme kembali ramai dibicarakan publik. Diawali karena terbunuhnya warga Amerika Serikat, George Floyd seorang lelaki kulit hitam yang tewas dibunuh oleh Polisi kulit putih saat penangkapan setelah diduga mengeluarkan uang kertas palsu senilai $20 di Minneapolis.

Secara umum, rasisme di dunia berakar pada perbedaan ras (warna kulit). Di amerika sendiri, rasisme sudah ada sejak 400 tahun lalu dimulai dari adanya perbudakan yang dilakukan oleh orang amerika yang mayoritas berkulit putih terhadap orang Afrika yang mayoritas berkulit hitam untuk membangun perekonomian. Di permukaan umum, termasuk dalam kebijakan AS, meskipun UU yang mengatur tentang praktik diskriminasi rasial AS telah dihapus, namun rasisme tidak benar" hilang. Rasisme di sana sulit dihapuskan karena itu telah tumbuh kembang dan berakar secara struktural dalam sistem kehidupan antara orang kulit hitam dan kulit putih Amerika. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa lepas selama perbedaan ras dan kultur masih tampak.

Associate Professor Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI), Drs Irwan Martua Hidayana, M.A. menyebutkan bahwa di Indonesia sendiri rasisme tidak lepas dari warisan kolonial dimana dahulu Belanda membuat stratifikasi sosial pada masyarakat jajahannya. Kemudian rasisme semakin terbentuk pada masa  Orde Baru ketika pemerintah melakukan represi terhadap etnis Tionghoa dan ketika daerah Papua menjadi lokasi operasi militer tahun 1974. Namun, isu rasisme di Papua berbeda dengan AS. Menurut Guru Besar Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Prof Dr Heddy Shri Ahimsa-Putra, MA, M.Phil, masalahnya adalah perlakukan terhadap kawasan Papua yang tidak bagus yang mungkin menyebabkan adanya rasa marah, rasa sakit hati yang dirasakan oleh orang Papua terutama terhadap apa yang terjadi pada masa lampau.

Di negara kita sendiri rasisme mungkin jarang kita jumpai, terutama pada kehidupan kita sehari hari. Namun sebenarnya, doktrin ini banyak terjadi di Indonesia dan perlu ditangani.

 

Seorang Mahasiswi yang berasal dari Timika, Erlince Magai mengatakan,

"Waktu saya ke Jakarta liburan bersama sepupu lagi menunggu jemputan pada sore hari di depan pintu keluar Monas, ada seorang anak kecil sekitar lima tahun melihat saya dan berkata 'ih ada orang hitam".

"Saya cuma senyum tetapi yang bikin saya marah adalah si ibunya tidak melakukan apa-apa cuma ketawa. Di sni saya bisa menyimpulkan bahwa tidak ada pendidikan dini yang baik dari si ibu,"

“Protes antirasisme setelah kematian George Floyd, semoga dapat membuka mata bahwa rasisme masih terjadi di Indonesia, kata Erlince.”

Kasus seperti diskriminasi yang dialami oleh George Floyd, juga dirasakan oleh orang papua di Indonesia.

Seperti apa yang terjadi oleh Obby Kogoya, seorang mahasiswa asal papua yang dijatuhkan ke aspal dan secara terus menerus diinjak oleh polisi Indonesia di Jogjakarta pada 15 Juli 2016, ketika ia ikut aksi demo mahasiswa papua yang memperingati referendum yang tidak demokratis tahun 1969 yang mengakibatkan terintegrasinya wilayah papua ke Indonesia.

Obby pun ditangkap dan diseret di aspal, ia juga ditendang dan dipukul. Petugas lain menginjak kepala Obby dan juga berkali-kali menginjak punggungnya. Obby adalah mahasiswa yang tidak bersenjata, tidak mengancam petugas atau orang yang ada disekitarnya namun nyatanya dia diperlakukan seperti penjahat. Obby pada akhirnya berhasil selamat namun ia dihukum empat bulan penjara atas tuduhan melawan dan menyerang dua petugas polisi, walaupun sebenarnya ialah yang menjadi korban

Kejadian Rasisme juga terjadi di Surabaya tahun 2019 lalu, dimana pihak Polisi dan TNI  mengepung asrama mahasiswa Papua yang disertai dengan ujaran kebencian dan makian berupa “monyet” kepada mahasiswa berdasarkan adanya tuduhan perusakan bendera Merah Putih yang didepan asrama dan membuangnya ke selokan. Namun aksi tersebut tidak memiliki bukti yang jelas.  Ternyata, aksi itu adalah upaya provokasi massa untuk merisak Mahasiswa Papua.

Dalam permasalahan rasisme bersikap tidak rasis tidak cukup untuk melawan rrasisme, karena hal tersebut, menandakan sikap netral pada rasisme.

Jadi, Cara yang paling benar melawan rasisme ialah dengan cara menjadi seorang yang aktif melawan tindakan dan perilaku rasisme yang ada, dengan kata lain menjadi seorang anti-rasis.

Berikut adalah cara yang dapat diikuti untuk menjadi seorang yang anti-rasis menurut Ibram X Kendi dalam bukunya How to Be an Anti-Racist:

1.     Memahami Definisi Rasisme

2.     Memahami Kesenjangan Rasial

3.     Berhenti Berkata “Saya Tidak Rasis”

Menurut Fahri N Muharom, Kebalikan dari orang yang rasis bukanlah orang yang tidak rasis, melainkan orang yang antirasis. Menjadi seorang yang antirasis berarti mengetahui dan mempelajari mengenai ketidaksetaraan dan perbedaan yang memberikan suatu kelompok ras dan etnis yang uderpervilaged.

Dibalik keberagamannya dan citra “ramah, santun dan saling menghargai” akan negara Indonesia, ternyata tidak sedikit dari kita yang masih kurang akan rasa Toleransi. Indonesia adalah negara yang memiliki keanekaragaman Ras, Agama, Suku dan Budaya. sangat disayangkan apabila masyarakatnya itu sendiri masih banyak yang kekurangan akan rasa toleransi.

 


Comments